Pembelajaran IT bagian dari kurikulum STQ

November 18, 2020


Alhamdulillah, Pesantren Tahfidz Quran Riyadhussholihin , diantara materi pembelajaran dalam muatan kurikulum STQ adalah materi belajar IT,  yang bertujuan untuk menambah skiil  para santri, dengan adanya pembelajaran komputer diharapkan para santri betul-betul memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik. Diharapkan santri santri kami disamping memiliki kemampuan dalam bidang tahfidz juga memiliki skiil menggunakan IT.

Mengenal 4 Madzhab Bag.3

Oktober 24, 2020

 


  

Mazhab ini dinamakan sesuai dengan pendirinya, Imam Syafi’i. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Mazhab ini muncul pada pertengahan abad ke-2 Hijriah.

Imam Syafi’i memiliki pemikiran fikih yang khas dan berbeda dibandingkan kedua mazhab terdahulunya. Sumber acuan mazhab ini adalah paham dan pemikiran Syafi’i yang dimuat dalam kitabnya, Ar-Risalah, Al-Umm, Ikhtilaf al-Hadits, dan lain-lain. Para ulama mazhab ini mengembangkan kitab-kitab tersebut dengan memberikan penjelasan atau komentar setelahnya.

Seperti dua mazhab lain, mazhab Syafi’i mempunyai dasar Alquran, Sunah, ijma, dan qiyas. Sunah yang diambil sebagai dasar adalah sunah daif yang tidak terlalu lemah, tidak bertentangan dengan dalil yang kuat, dan bukan untuk menetapkan yang halal dan haram atau masalah keimanan.

Dalam mazhab ini, hadis mempunyai kedudukan yang tinggi, bahkan disebutsebut posisinya setara dengan Alquran. Menurut Imam Syafi'i, hadis memiliki kaitan yang erat dengan Alquran. Ia juga berpendapat Rasulullah menetapkan setiap hukum yang pada hakikatnya merupakan hasil pemahaman yang beliau dapat dari Alquran.

Di kalangan penganut mazhab Syafi'I, dikenal metode maslahat, yaitu metode penerapan hukum yang berdasarkan kepetingan umum. Hanya saja, maslahat ini hanya terbatas pada maslahat yang mu'tabarah, yaitu yang secara khusus ditunjuk oleh nas dan maslahat yang sesuai kehendak Allah SWT.

Mengenal 4 madzhab Bag.2

Oktober 24, 2020

 


 

MAZHAB MALIKI

Aliran ini didirikan oleh Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir al-Asbahi, atau yang dikenal dengan nama Imam Malik. Ia lahir di Madinah pada 93 H dan wafat pada 179 H. Imam Malik adalah seorang ahli hadis dan fikih yang paling terpercaya. Ia menguasai fatwa Umar bin Khathab, Abdullah bin Umar bin Khathab, dan Aisyah binti Abu Bakar.

Pada awalnya, Imam Malik memfokuskan studinya pada ilmu hadis. Ia mengarahkan perhatiannya pada fiqh ra’yu (penalaran) ahli Madinah yang diterimanya. Corak ra’yudi Madinah adalah perpaduan antara nash-nash dan berbagai maslahat. Imam Malik mengajar ilmu hadis di Masjid Nabawi. Ia juga memberikan fatwa terhadap kasus yang sudah terjadi.

Imam Malik tidak mau memberikan fatwa terhadap kasus yang belum pernah terjadi, walaupun hal tersebut diramalkan akan terjadi. Ia juga tidak ingin memutuskan fatwa terkait wewenang hakim. Dalam menanggapi pemikiran yang berbeda dalam masalah akidah, sang ulama besar itu selalu menggunakan fikih dan hadis sebagai jalan keluarnya.

Kitab terbesar Imam Malik adalah Al-Muwatta’, yaitu kitab hadis pertama yang pernah disusun. Kitab ini berisi hadis-hadis dalam tema fikih yang pernah dibahas Imam Malik, seperti praktik penduduk Madinah, pendapat tabiin, dan pendapat sahabat tabiin yang ditemuinya.

Menurut Ensiklopedi Islam, Alquran menjadi dasar istinbatmazhab ini. Seperti halnya mazhab yang lain, Alquran menjadi dasar utama syariat dan hujah mazhab Maliki. Imam Malik mengambil dari nas yang tidak menerima takwil dan mengambil bentuk lahirnya. Dasar keduanya adalah Sunah.

Sunah yang diambil oleh Imam Malik untuk mazhabnya adalah sunah mutawatir, yaitu yang diriwayatkan oleh suatu golong an kepada orang banyak yang diyakini tidak akan membuat kesepakatan bohong atau dusta, sunah masyhur, dan khabar ahad.

Dasar ketiga dari mazhab yang tersebar di Hedjaz ini adalah praktik penduduk Madinah yang dipandang sebagai hujah, apabila praktik tersebut benar-benar dinukilkan oleh Nabi Muhammad SAW. Imam Malik mencela ahli fikih yang tidak mau mengambil praktik penduduk Madinah, bahkan menyalahinya.

Sebagai dasar keempat, Imam Malik mengambil fatwa sahabat. Ia memandang fatwa ini wajib dilaksanakan karena tidak mungkin mereka melakukan hal tersebut tanpa perintah dari Rasulullah. Qiyas menjadi dasar kelima dari mazhab Imam Malik yang lahir di Madinah ini.

Ia mengambil qiyas dalam pengertian umum yang merupakan penyamaan hukum perkara. Dasar terakhir yang dipakai adalah az-zara'i, yaitu sarana yang membawa pada hal haram akan menjadi haram dan sebaliknya.

Mengenal 4 madzhab Bag.1

Oktober 24, 2020

 



Mazhab berasal dari bahasa Arab yang berarti jalan yang dilalui atau dilewati. Ulama Islam berpendapat mazhab sebagai metode yang dipakai setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang menjalaninya dan menjadikannya sebagai pedoman.

Pada dasarnya, mazhab timbul karena perbedaan dalam memahami Alquran dan Sunah yang tidak bersifat absolut. Menurut Prof Said Aqil Husain al-Munawar dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, mazhab fiqih berarti aliran pemikiran tentang hukum yang penetapannya merujuk kepada sumber utama ajaran Islam, yakni Alquran dan Sunah.

Sejatinya, mazhab atau aliran tersebut hanya berbeda dalam menafsirkan ayat-ayat yang tak jelas artinya. Sedangkan, dasar ajaran Islam pada setiap mazhab-mazhab itu tak berbeda. Sehingga, perbedaan yang ada dalam setiap mazhab itu masih dapat diterima sebagai sesuatu yang benar dan tak keluar dari Islam. Terkadang, perbedaan antara satu mazhab dengan mazhab lainnya cukup besar dan bahkan bertentangan.

Mazhab Fiqih dalam Ahlu Sunnah Wal Jamaah:

1. MAZHAB HANAFI
Mazhab ini didirikan oleh Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Ulama besar yang dikenal dengan nama Imam Hanafi itu terlahir di Kufah, Irak, pada 80 H. Ia adalah seorang ahli fikih keturunan bangsa Persia yang kemudian menetap di Irak. Imam Hanafi menimba ilmu fikih kepada Hammad bin Abi Sulaiman.

Setelah gurunya meninggal, ia menjadi pengajar. Imam Hanafi mengarahkan murid-muridnya dalam pencarian hakikat dan inti persoalan dan pengenalan terhadap ilah (alasan) serta hukum di balik teks tertulis.

Dasar yang dipakai oleh mazhab Hanafi adalah Alquran, Sunnah, dan fatwa sahabat yang merupakan penyampai. Mazhab ini juga menggunakan qiyas sebagai dasarnya dan juga istihsan, yaitu qiyas yang berlawanan dengan nas. Imam Hanafi juga menggunakan ijma, yaitu kesepakatan para mujtahid mengenai suatu kasus hukum pada suatu masa tertentu.

Selain itu, ia juga menggunakan dasar urf, yaitu adat kebiasaan orang Islam dalam satu masalah tertentu yang tidak disebut oleh nas Alquran.

Penyusun pendapat, fatwa, dan hadis dari Imam Hanafi adalah murid-muridnya, yaitu Yakub bin Ibrahin al-Ansari atau Abu Yusuf, dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Mereka menyusun kitab yang berisi masalah fikih mazhab Hanafi.

Ada sejumlah faktor yang mendorong berkembangnya mazhab itu dan mampu bertahan selama lebih dari lima abad. Faktor utamanya, banyaknya murid yang berguru kepada Imam Hanafi. Mereka giat menyebarkan ajaran kepada orang-orang di sekitar mereka sehingga timbullah generasi kedua yang menganut mazhab tersebut.

Mazhab ini tersebar di daerah yang memiliki tradisi yang berbeda. Dari tradisi yang berbeda ini melahirkan putusan menurut mazhab Hanafi. Mazhab Hanafi sempat menjadi mazhab resmi Dinasti Abbasiyah. Mazhab ini juga tersebar di negara yang dikuasai Dinasti Ottoman, daerah Anatolia (Asia Tengah), India, dan wilayah Transoksania (Turkistan, Asia Tengah).

Mazhab ini berkembang pula di Suriah, bahkan sempat dijadikan mazhab negara. Di Mesir, mazhab Hanafi juga menjadi mazhab negara ketika pemerintahan Muhammad Ali (1805-1849).

Al Qosim Bin Muhammad Bin Abu Bakar Ash Shidiq Bag I

September 17, 2020

 

Sudah sampaikah berita kepada Anda tentang tabi'in yang agung ini? Seorang pemuda yang terkumpul pada dirinya pujian dari segala sisi, tak satupun pujian luput darinya.
Ayahanda beliau adalah Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ibunya adalah puteri Yazdajir, raja Persia yang terakhir. Sedangkan bibinya dari pihak ayah adalah Aisyah Rodhiallahu 'anha, Ummul Mukminin. Di samping itu, di atas kepalanya telah bertengger mahkota takwa dan ilmu. Adakah Anda masih mengira ada kemenangan yang lebih tinggi dari kemenangan yang semua orang bersaing dan berlomba men­dapatkannya ini?

Dialah Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, satu dari tujuh fuqaha Madinah, yang paling utama ilmunya pada zamannya, paling tajam kecerdasan otaknya dan paling bagus sifat wara' nya. Marilah kita buka lembaran hidupnya dari awal.

Al-Qasim bin Muhammad lahir pada akhir masa khilafah Utsman bin Affan Rodhiallahu 'anhu. Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak ini, badai fitnah semakin dahsyat menerpa kaum muslimin. Hingga me ngakibatkan terbunuhnya khalifah yang zuhud, ahli ibadah, Dzun Nurain Utsman bin Affan sebagai syuhada, sedangkan Al-Qur'an ber ada dalam dekapannya

Suatu hari beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku didudukkan di pangkuannya yang satu sedang adikku di pangkuan yang lain. Paman Abdurrahman datang atas undangan nya. Lalu bibi Aisyiah mulai berbicara, beliau mulai dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sungguh aku belum pernah mendengar sebelum dan sesudahnya seorangpun baik laki-laki ataupun perempuan yang lebih fasih lisannya dan lebih bagus tutur katanya dari beliau. Beliau berkata kepada paman: "Wahai saudaraku, aku melihat sepertinya Anda menjauh dari saya sejak saya mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah saya melakukannya bukan karena lancang kepada Anda, bukan karena saya menaruh buruk sangka kepada Anda dan bukan pula lantaran saya tidak percaya bahwa Anda dapat memenu hi hak keduanya. Hanya saja Anda memiliki istri lebih dari satu, se dangkan ketika itu kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri. Maka saya khawatir jika keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga saya merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada Anda." Begitulah, akhirnya pamanku Abdurrahman memboyong kami ke rumahnya.

Hanya saja, hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut de ngan rumah bibinya, Aisyah Rodhiallahu 'anha. Rindu terhadap lantai rumah yang bercampur dengan kesejukan nubuwat. Dia berkembang dan ter pelihara oleh perawatan pemilik rumah itu, dia kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya antara rumah bibi dan rumah pamannya.

Rumah bibinya betul-betul berkesan di hatinya. Lingkungan yang sejuk itu menghidupkan sanubari selama hayatnya. Simaklah kesan- kesan yang melekat di hatinya:
"Suatu hari aku berkata kepada bibiku Aisyah Rodhiallahu 'anha: "Wahai ibu, tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam dan kedua sahabatnya, aku ingin sekali melihatnya."

Tiga kubur itu berada di dalam rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan. Beliau memperlihatkan untuk kami tiga buah makam yang tidak digundukkan dan tidak pula dicekung kan. Ketiganya ditaburi kerikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid. Saya bertanya: "Yang mana makam Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam?" Beliau menunjuk salah satu darinya: "Ini." Bersamaan dengan itu, dua butir air mata bergulir di pipinya, tetapi segera di sekanya agar aku tak melihatnya. Makam Nabi Sholallahu 'alaihi wasallam itu agak lebih maju dari makam ke dua sahabatnya.

Saya bertanya lagi: "Lalu yang mana makam kakekku, Abu Bakar?"
Sambil menunjuk satu kubur beliau berkata: "Yang ini." Kulihat ma kam kakekku sejajar dengan letak bahu Rasulullah. Aku berkata: "Yang ini makam Umar?" Beliau menjawab: "Benar."

Aku melihat letak kepala Umar sejajar dengan jari-jari kakekku, dekat dengan arah kaki Nabi Sholallahu 'alaihi wasallam."

Sumber: Shuwaru min Hayati At-Tabi'in/kisahislam.com



Al Qosim Bin Muhammad Bin Abu Bakar Ash Shidiq (2 )

September 16, 2020

 

Menginjak remaja, cucu Abu Bakar ini telah hafal Kitabullah dan menimba hadits-hadits dari bibinya, Aisyah Rodhiallahu 'anha sebanyak yang dike hendaki Allah. Dia tekun mendatangi Al-Haram Nabawi dan duduk dalam halaqah-halaqah ilmu yang terhampar di setiap sudut-sudut masjid laksana bintang-bintang gemerlap yang bertaburan di langit yang terang. Beliau menghadiri majlisnya Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja'far, Abdullah bin Khabbab, Rafi' bin Khudaij, Aslam pembantu Umar bin Khathab dan sebagainya. Hingga pada gilirannya beliau menjadi imam mujtahid dan menjelma menjadi manusia yang paling pandai dalam hal sunnah pada zamannya, di mana ketika itu seseorang belumlah dianggap sebagai tokoh sebelum dia mendalami sunnah-sunnah Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam. Setelah sempurna perlengkapan ilmu pemuda yang merupakan cucu Abu Bakar ini, orang-orang banyak belajar kepadanya dengan penuh perhatian. Sementara beliau memberikan ilmunya tanpa pamrih atau jual mahal. Beliau tak pemah absen untuk pergi ke masjid Nabawi setiap hari lalu shalat dua rekaat tahiyatul masjid kemudian duduk di bekas tempat Umar Rodhiallahu 'anhu di Raudhah, yakni tempat antara kubur Nabi Sholallahu 'alaihi wasallam dengan mimbarnya. Selanjutnya berkumpullah murid-muridnya dari segala penjuru untuk menimba ilmu dari sumber yang segar dan bersih, melegakan jiwa-jiwa yang haus akan ilmu. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Al-Qasim bin Muhammad dan putera bibinya, Salim bin Abdullah bin Umar, menjadi dua imam Madinah yang terpercaya. Keduanya menjadi tokoh yang ditaati dan didengar perkataannya, meskipun keduanya tidak memiliki wilayah jabatan ataupun kekuasaan. Masyarakat mengangkat keduanya kare na sifat takwa dan wara'nya. Juga karena pusaka yang berada di dalam dadanya berupa ilmu dan pemahamannya, ditambah lagi karena sifat zuhudnya terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta berharap banyak terhadap apa-apa yang berada di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Martabat keduanya mencapai puncaknya hingga khalifah-khalifah Bani Umayah dan para bawahannya hormat kepadanya. Penguasa- penguasa tersebut bahkan tidak pernah memutuskan suatu masalah yang pelik kecuali setelah mendengarkan pendapat kedua ulama tersebut. Sebagai contoh, ketika Al-Walid bin Abdul Malik berkeinginan untuk memperluas Al-Haram Nabawi yang mulia. Rencana ini tidak bisa dilaksanakan tanpa membongkar masjid yang lama pada keem pat arahnya dan menggusur rumah istri-istri Nabi Sholallahu 'alaihi wasallam untuk perluasan. Persoalan ini rentan dengan perpecahan antara kaum muslimin dan menyakiti perasaan mereka. Mengingat hal ini, maka khalifah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, wali Madinah, yang isinya sebagai berikut: "Saya memandang perlunya memperluas Masjid Nabawi Asy Syarif sampai 200 hasta persegi. Untuk kebutuhan ini, keempat dindingnya perlu dirobohkan dan rumah istri-istri Nabi terpaksa kena perluasan. Selain itu rumah-rumah yang ada di sekitarnya perlu dibeli dan kiblatnya dimajukan kalau bisa. Anda mampu mewujudkan hal itu, mengingat kedudukan Anda di antara paman-paman Anda adalah keturunan lbnul Khathab dan besarnya pengaruh mereka di masyarakat. Jika penduduk Madinah menolaknya, Anda bisa minta bantuan pada Al-Qasim dan Salim bin Abdullah. Sertakan keduanya dalam rencana pemugaran dan perluasan ini. Jangan lupa, bayarlah ganti rugi rumah-rumah rakyat dengan harga setinggi mungkin. Bagi Anda pahala yang baik seperti yang dilakukan Umar bin Khathab dan Utsman bin Affan." Dengan segera, gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz mengun dang Al-Qasim bin Muhammad dan Salim bin Abdullah bin Umar dan para pemuka kaum muslimin Madinah. Kepada mereka dibacakan surat perintah khalifah yang baru saja diterima. Ternyata mereka gem bira dengan apa yang direncanakan oleh Amirul Mukminin dan siap sedia untuk mendukung rencana tersebut. Demi melihat imam-imam dan ulama mereka turun tangan sendiri melaksanakan pemugaran masjid, penduduk Madinah secara serentak turut membantu dan melaksanakan sebagaimana yang diperintahkan amirul mukminin dalam suratnya. Di tempat lain, pasukan muslimin terus mendapatkan kemena ngan gemilang. Mereka berhasil menjatuhkan benteng-benteng mu suh di Konstantinopel dan merebut kota demi kota di bawah pimpinan komandan yang tangkas dan pemberani, Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan. Ini adalah awal terbukanya Konstantinopel. Kaisar Romawi mendengar rencana pemugaran dan perluasan masjid Nabawi, maka dia ingin menyenangkan dan mengambil hati Amirul Mukminin. Dikirimnya 100 kilogram emas murni disertai 100 arsitek dari Romawi dan membawa ubin-ubin marmer yang indah. Bantuan tersebut dikirimkan oleh Al-Walid kepada Umar bin Abdul Aziz. Wali Madinah ini baru mau memanfaatkannya setelah terlebih dahulu bermusyawarah dengan Al-Qasim bin Muhammad. Alangkah miripnya Al-Qasim dengan kakeknya, Abu Bakar Ash- Shidiq Rodhiallahu 'anhu, sampai orang-orang berkomentar: "Tidak ada anak ke turunan Abu Bakar Rodhiallahu 'anhu yang lebih mirip dengan beliau dari Al-Qasim. Dia begitu serupa dalam akhlak, bentuk fisik, keteguhan iman maupun kezuhudannya..." Dan banyak sekali sikap dan perbuatannya yang membuktikan hal ini. Sebagai contoh, ketika ada seorang dusun datang ke masjid lalu bertanya kepada beliau: "Siapakah yang lebih pandai, Anda ataukah Salim bin Abdullah?" Al-Qasim berpura-pura sibuk sehingga si penanya mengulangi pertanyaannya. Beliau menjawab: "Subhanallah." Pertanyaan itu diulang untuk ketiga kalinya, lalu Al-Qasim ber kata: "Itu dia, Salim putera bibiku duduk di sebelah sana." Orang- orang yang di majelis itu saling berbisik: "Sungguh mirip dia dengan kakeknya. Dia tidak suka dan sangat benci untuk berkata: "Aku lebih pandai," karena hal itu berarti menyombongkan diri. Namun dia ti dak pula berkata: " Dia lebih pandai," Sebab itu berarti dusta, meng ingat sebenarnya dia lebih pandai daripada Salim. Suatu ketika, di Mina terlihat para jama'ah haji ke Baitullah berdatangan dari segala penjuru negeri dan mereka bertanya tentang agama kepada Al-Qasim. Beliau menjawab sebatas apa yang beliau ketahui. Kepada mereka yang menanyakan masalah yang dia tidak menge tahuinya, tanpa rasa malu beliau berkata: "Aku tidak tahu ... aku tidak mengerti ... aku tidak tahu." Nampaknya orang-orang heran dan pe nasaran dengan jawaban tersebut, maka beliau menegaskan kepada mereka: "Aku tidak tahu apa yang kalian tanyakan itu. Seandainya saya tahu, tentu tidak akan aku sembunyikan. Sungguh seseorang hidup dalam keadaan bodoh -selain berma'rifah kepada hak-hak Allah- adalah lebih baik daripada seseorang mengatakan apa yang tidak dia ketahui ilmunya." Pernah pula ketika beliau ditugaskan untuk membagikan harta sedekah kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Maka beliau melaksanakannya sebaik mungkin dan memberikan bagian kepada yang benar-benar berhak atasnya. Namun ada satu orang yang tidak puas dengan bagiannya dan mendatanginya di masjid: Beliau tengah melakukan shalat ketika orang itu datang dan bicara soal harta sedekah. Putera Al-Qasim yang mendengarnya dengan dongkol berkata: "Demi Allah engkau telah melem parkan tuduhan terhadap orang yang tidak sepeserpun mengambil bagian dari harta sedekah itu dan tidak makan walau sebutir kurma." Setelah menyelesaikan shalatnya, Al-Qasim menoleh kepada puteranya seraya berkata: "Wahai puteraku, mulai hari ini janganlah engkau berbicara tentang masalah yang tidak engkau ketahui." Orang-orang berkata: "Apa yang dikatakan anaknya memang be nar, namun beliau ingin mendidik putranya agar menjaga lidah dalam mencampuri urusan orang lain. Al-Qasim bin Muhammad hidup sampai usia 72 tahun, menjadi buta di hari tuanya. Dalam usianya yang lanjut, beliau menuju Makkah untuk naik haji, dalam perjalanan inilah beliau wafat. Ketika beliau merasa ajalnya telah dekat, beliau berpesan kepada puteranya: "Bila aku mati, kafanilah aku dengan pakaian yang aku pakai untuk shalat. Gamisku, kainku dan surbanku. Seperti itulah kafan kakekmu, Abu Bakar Ash-Shidiq Rodhiallahu 'anhu. Kemudian ratakanlah makamku dan segera kembalilah kepada keluargamu. Jangan engkau berdiri di atas kuburanku seraya berkata: "Dia dulu begini dan begitu ... karena aku bukanlah apa-apa.

Ustadz Adi Hidayah Beberkan Rahasia Cepat Menghafal Al Qur an

September 14, 2020

 

Ustaz Adi Hidayat Beberkan Rahasia Cepat Menghafal Al-Qur'an

 Ustaz Adi Hidayat Beberkan Rahasia Cepat Menghafal Al-Quran
Dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu (RA), Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR Al-Bukhari)

Dai kondang yang juga Direktur Quantum Akhyar Institute, Ustaz Adi Hidayat, membeberkan rahasia dan cara cepat menghafal Al-Qur'an. Ada enam syarat yang harus dipenuhi jika ingin menjadi penghafal Qur'an.

Ustaz Adi memberi tips mudah meghafal Al-Qur'an saat mengisi kajian "Sehari Bersama Al-Qur'an" di Jakarta Islamic Center, Koja, Jakarta Utara, belum lama ini.



6 Syarat Menjadi Penghafal Qur'an dengan Mudah:

1. Niat Ikhlas karena Allah Ta'ala.
Niat pertama yang harus dihadirkan adalah ikhlas karena Allah Ta'ala. Apabila niatnya karena Allah (lillahi Ta'ala) maka akan dimudahkan dalam menghafal dan mempelajari Qur'an.

2. Menghadirkan Motivasi.
Apa motivasi kita menghafal Al-Qur'an? Coba niatkan menghafal Al-Qur'an minimal untuk membahagiakan orang tua kita. Nabi Muhammad SAW pernah berkata bahwa ridha Allah itu ridha orangtua. Pada hari kiamat nanti seorang ahli Qur'an akan disampaikan kepada orang tuanya. Ketika akan masuk surga, perintah pertamanya gandeng ayah ibunya. Kalau selama hidup tak bisa membahagiakan orangtua, minimal bacakan Al-Qur'an untuknya. Jadi motivasinya "Saya ingin jadi ahli Al-Qur'an. Saya ingin bahagiakan kedua orang tua. Saya ingin sekeluarga jadi ahli Al-Qur'an."

3. Meningkatkan Takwa.
Tingkatkan ketakwaan sebelum menghafal. Kalau sudah bertakwa nanti akan diberi kemampuan menghafal dengan cepat. Imam Bukhari awalnya matanya buta, tapi ibundanya selalu berdoa agar anaknya dijadikan ahli Qur'an. Kesalehan ibunya mengikuti ibunda Imam As-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan yang lainnya. Jadi kalau ingin jadi penghafal Qur'an jangan tinggalkan tahajjud, dhuha, rawatib, syuruq, sedekah setiap hari

4. Memperbanyak Doa.
Perbanyak baca doa ini agar dimudahkan menjadi penghafal Qur'an:
اَللهم اجْعَÙ„ْÙ†َا َاَÙ‡ْÙ„ِ اْلقُرْآنِ
اَللّÙ‡ُÙ…َّ ÙŠَسِّرْ Ùˆَ Ù„َا تُعَسِّر
Allahummaj'alna Ahlil-Qur'an, Allahumma Yassir wa laa Tu'assir. (Ya Allah, jadikan saya ahli Al-Qur'an. Mohon permudahlah jangan dipersulit).
Atau berdoa: "Ya Allah, jadikan saya ahli Al-Qur'an. Saya ingin membahagiakan orangtua saya Ya Allah. Mudahkan untuk saya mohon jangan dipersulit. Hilangkan semua kesulitan."

Ada penghafal Qur'an hafal halaman kedua, tapi halaman pertamanya lupa. Penyebabnya karena selesai menghafal tidak membaca doa. Perbanyaklah berdoa: "Ya Allah, mohon kuatkan Al-Qur'an dalam diri hamba dan mohon Ya Allah jaga dari melupakannya."

5. Mencari Guru.
Menghafal Al-Qur'an tidak bisa sendirian, harus ada guru. Kalau tidak memiliki guru secara langsung, maaf sekali anda boleh gunakan perangkat Youtube dan yang lainnya.

6. Meluangkan Waktu.
Harus meluangkan waktu. Cara terbaiknya bikin target. Kalau targetnya 2 tahun, sehari harus hafal 1 halaman dan paling banyak meluangkan waktu 30 menit. Kalau ada yang setahun paling banyak 2 lembar sehari. Meluangkan waktunya lebih banyak, sehari 2-3 jam. Tapi kalau ingin 30 hari, maka harus fokus menghafal selama 30 hari. Sehari 1 juz. Kalau ingin 30 hari, maka 30 hari khusus menghafal Qur'an. Sebelum itu 10 hari mesti ta'aruf dengan Al-Qur'an.

Cara Ta'aruf dengan Al-Qur'an:

1. Cari Mushaf.
Kami beri nama At-Taisir untuk memudahkan menghafal. Di hari akhir gak akan ditanya hafal ayatnya, nomornya, tapi untuk memudahkan kalau mengajar. Mushafnya satu saja agar mudah.

2. Bikin Program.
Misalnya program membaca minimal 1 harinya 5 juz dibagi setiap waktu salat. Sebelum salat setengah juz, sesudah salat setengah juz. Malamnya salat tahajjud. Sabtu sampai Kamis membaca, Jumatnya berdoa minta dimudahkan, membaca Surah Al-Kahfi,
perbanyak salawat dan sedekah. Hari ke 8 ulangi lagi juz 1-5. Hari ke 9 dan 10 ulangi lagi juz 1-5. Hari Senin mulai menghafal sehari 1 juz.

Setelah ta'aruf dengan Al-Qur'an, selanjutnya praktikkan 6 poin di atas. Mushaf khusus untuk menghafal namanya At-Taisir. Untuk anak-anak dan pemula ada yang 10 juz.

Demikian paparan Ustaz Adi Hidayat agar cepat menghafal Al-Qur'an. Semoga kita diberi taufik dan kekuatan untuk bisa mengamalkannya.
(rhs)

2
5
0
0
1

Atau berdoa: "Ya Allah, jadikan saya ahli Al-Qur'an. Saya ingin membahagiakan orangtua saya Ya Allah. Mudahkan untuk saya mohon jangan dipersulit. Hilangkan semua kesulitan."

Ada penghafal Qur'an hafal halaman kedua, tapi halaman pertamanya lupa. Penyebabnya karena selesai menghafal tidak membaca doa. Perbanyaklah berdoa: "Ya Allah, mohon kuatkan Al-Qur'an dalam diri hamba dan mohon Ya Allah jaga dari melupakannya."

5. Mencari Guru.
Menghafal Al-Qur'an tidak bisa sendirian, harus ada guru. Kalau tidak memiliki guru secara langsung, maaf sekali anda boleh gunakan perangkat Youtube dan yang lainnya.

6. Meluangkan Waktu.
Harus meluangkan waktu. Cara terbaiknya bikin target. Kalau targetnya 2 tahun, sehari harus hafal 1 halaman dan paling banyak meluangkan waktu 30 menit. Kalau ada yang setahun paling banyak 2 lembar sehari. Meluangkan waktunya lebih banyak, sehari 2-3 jam. Tapi kalau ingin 30 hari, maka harus fokus menghafal selama 30 hari. Sehari 1 juz. Kalau ingin 30 hari, maka 30 hari khusus menghafal Qur'an. Sebelum itu 10 hari mesti ta'aruf dengan Al-Qur'an.

Cara Ta'aruf dengan Al-Qur'an:

1. Cari Mushaf.
Kami beri nama At-Taisir untuk memudahkan menghafal. Di hari akhir gak akan ditanya hafal ayatnya, nomornya, tapi untuk memudahkan kalau mengajar. Mushafnya satu saja agar mudah.

2. Bikin Program.
Misalnya program membaca minimal 1 harinya 5 juz dibagi setiap waktu salat. Sebelum salat setengah juz, sesudah salat setengah juz. Malamnya salat tahajjud. Sabtu sampai Kamis membaca, Jumatnya berdoa minta dimudahkan, membaca Surah Al-Kahfi,
perbanyak salawat dan sedekah. Hari ke 8 ulangi lagi juz 1-5. Hari ke 9 dan 10 ulangi lagi juz 1-5. Hari Senin mulai menghafal sehari 1 juz.

Setelah ta'aruf dengan Al-Qur'an, selanjutnya praktikkan 6 poin di atas. Mushaf khusus untuk menghafal namanya At-Taisir. Untuk anak-anak dan pemula ada yang 10 juz.

Demikian paparan Ustaz Adi Hidayat agar cepat menghafal Al-Qur'an. Semoga kita diberi taufik dan kekuatan untuk bisa mengamalkannya.
(rhs)
halaman ke-2 dari 2
2
5
0
0
1
21
176
4
3
8
Ustaz Adi Hidayat Beberkan Rahasia Cepat Menghafal Al-Qur'an

55 KEISTIMEWAAN PENGHAFAL QUR'AN

September 14, 2020

 


Ust. Fatih Aliya, Al Hafidz


Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs. Al Hijr : 9)

A. MUQADDIMAH  

Allah SWT Rabb Yang Maha Esa, dalam ayat tersebut menyebut diri-Nya dengan kata “KAMI” (Kami-lah yang menurunkan Al Quran) bukan  “Aku” karena saat menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT melibatkan  makhluq-Nya yang  sangat mulia, Malaikat Jibril. Demikian pula saat Allah SWT memeilihara Al Quran, Allah SWT menyebut diri-Nya dengan kata “KAMI” (Kami benar-benar memeliharanya) bukan  “Aku” karena  saat  memelihara Al Quran Allah-pun melibatkan  makhluq-Nya yang lain. Siapakah makhluq yang kemulyaannya disejajarkan dengan Malaikat Jibril dan sangat dekat kepada Allah SWT, yang dilibatkan Allah dalam memelihara Al Quran? Mereka itulah Huffadz yaitu para Hafidz/Hafidzah penghafal Al-Quran.

B. MENGHAFAL AL QURAN SEPERTI SEDANG BELAJAR NAIK SEPEDA.

Jarak 30 Km terasa amat sangat jauh untuk ditempuh. Terasa amat sempit jalan raya yang harus dilalui. Terlihat menyeramkan ; pohon, parit dan sungai di kiri dan kanan jalan. Terasa amat sangat panas suhu udara di pegunungan. Jatuh, bangun, jatuh, bangun, kadang harus tergores bahkan terluka karena ingin bisa. Tetapi begitu sudah PANDAI NAIK SEPEDA, derita itu betul-betul terbayar. Rasa haru, senang dan bangga meliputinya. Jarak 30 Km terasa amat sangat dekat. Jalan raya terlihat sangat luas. Pohon, parit dan sungai di kiri dan kanan jalan terlihat indah seperti dalam lukisan. Suhu udara pegunungan begitu sejuk menyegarkan.

Begitulah ujian orang yang ingin menghafal Al Quran. Belum mulai saja sudah diliputi rasa was-was, takut dan khawatir yang berlebihan. Menghafal satu, dua ayat saja terasa sulit, apalagi menghafal satu atau dua juz terasa amat sangat berat dan melelahkan. Tetapi bila sudah bisa dan terbiasa menghafalnya, memasuki juz 11,12 dst., SUBHANALLAH, amat sangat mudah dan menyenangkan. Subhanallah… andaikan Al Quran 60 Juz pun pasti akan kami hafalkan…Begitulah desahan Ahli Al Quran. (Motivasi Al Hafidz Syekh Arsyad Dahlan,Lc, SH.I, SE., Konsultan Ponpes Al Ishlah, Grand Opening “Tahfidz Mandiri”, Ahad, 12/03 2017).

Ya Allah Ya Rabbana ! Begitu mulianya mereka yang sedang berusaha menghafal Al Quran. Usaha dan jerih payahnya berpahala seperti jihad fi sabilillah di medan perang ; apalagi mereka yang sudah hafal Al Quran, boleh mengajak serta 70 orang yang dicintainya mengiringinya masuk surga karena Al Quran. Memakaikan jubah kebesaran dan mahkota surga kepada orang tua, guru dan orang-orang yang membantunya menghafalkan Al Quran.

C.  KISAH INSPIRATIF; SUDAH LANJUT USIA MUNGKINKAH  BISA HAFAL QURAN ?

  1. Abdullah Musa, Jeddah, hafal Quran setelah usia 70th (Voa Islam)
  2. Ummu Shaleh, baru belajar Quran usia 70th dan jadi Hafidzah (Hafal Quran) usia 82 th (Majalah Ad Da’wah)
  3. Dr. Abdullah, Pakistan, Seorang ahli medis dan konglomerat, saat kunjungan ke Al Ishlah, beliau berkata “saya sangat bersyukur dan bangga bukan karena sukses jadi sarjana atau konglomerat tapi karena 5 dari 6 anak saya sudah menjadi hafidz Al Quran”.
  4. Ummu Mujahid (Makasar), hafal Quran setelah 11 anaknya menjadi Hafidz/Hafidzah.
  5. Kakek dari Medan, ikut program Tahfidz usia 78th sebelum memulai menghafal Quran dia berdo’a, “Ya Allah, usiaku tinggal sedikit lagi, aku ingin hafal Quran, setelah aku jadi hafidz aku siap Engkau cabut nyawaku kapanpun Engkau mau!”. Akhirnya usia 80th beliau hafal, saat sujud syukur setelah dinyatakan LULUS/WISUDA, beliau wafat dalam sujudnya.
  6. Afkar Muzakki, kelas X SMA (tanpa tinggal di Pesantren), selain juara Olimpiade Since, kini sudah hafal 22 Juz.
  7. Dari kehidupan desa yang sangat sederhana, kemudian menjadi hafidz, Ust. A. Dahlan, menjadi milliarder, memiliki rumah sakit besar, supermarket, villa. 15 Ha. lahan peternakan, lahan untuk lembaga pendidikan dan lain-lain.

D.  SYARAT MENGHAFAL AL QURAN

1, Niat semata-mata karena Allah, dan sebagai jawaban atas pertanyaan Allah SWT dalam Qs. Al Qamar :17, 22, 32, dan 40.  


“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran (dihafal), maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Labbaik Ya Allah, ada…. KAMI Ya Allah….

2. Minta maaf ; ridlo dan restu orang tua/wali/suami, karena belajar Tahfidz termasuk perjuangan besar.

3. Berusaha membersihkan hati dari dosa ; (karena hatinya ingin di-isi dengan Al Quran. Al Quran merupakan Nurullah (cahaya Allah)  dan cahaya Allah tidak akan melekat pada hati yang penuh dosa).

4. Cintai Al Quran ; dengan menjadikan bacaan Al Quran sebagai amalan menyenangkan sehari-hari. Indikator cinta Al Quran ;

  1. Quran dulu ; sebelum shalat atau aktifitas lainnya diawali dengan membaca Al Quran.
  2. Quran lagi : selesai shalat atau aktifitas lainnya dilanjutkan dengan membaca Al Quran lagi.
  3. Quran saja ; mengganti kebiasaan saat santai dengan main HP, game, nonton TV, mendengar musik dll. dengan menghafal Al Quran saja, sehingga membaca Al Quran menjadi bagian dari hiburan jiwanya.
  4. Quran selalu ; selalu mengisi waktu luang dan selalu meluangkan waktu untuk menghafal Al Quran.

5. Ijtihad; (berjuang sungguh-sungguh) fokus dan serius penuh rasa ta’dhim (hormat).

6. Tashhih ; (setor hafalan untuk dicatat, diluruskan atau diperbaiki sampai benar) kepada yang lebih mengerti.

7. Muraja’ah ; (sering mengulang-ulang untuk menguatkan hafalan) baik sendiri maupun di hadapan orang lain walaupun orang tersebut belum hafidz.

8. Syukur ; syukuri berapa ayat/surat/halamanpun yang sudah dihafal, tidak melihat berapa ayat/surat/halaman lagi yang harus dihafal.

9. Menetapkan Target ; misalnya hafal 20 surat untuk bacaan shalat, hafal juz 1 dan 30 dalam sebulan, hafidz dalam 2 tahun dll, setidaknya saat meninggal sudah hafal 30 juz.

E.  HAMBATAN-HAMBATAN

  1. Rasa takut karena belum lancar membaca Al Quran, padahal Rasulullah SAW-pun menerima Al Quran dalam keadaan ummiy (tidak pandai tulis baca). Banyak sekali hafidz/hafidzah padahal yang bersangkutan belum bisa membaca Al Quran. Itulah sebagian dari keistimewaan Al Quran. Tahsin (membaca dengan baik) itu perlu tapi tashhih (membaca dengan benar) itu jauh lebih perlu.
  2. Khawatir hidup susah, tertinggal pelajaran, susah dapat pekerjaan dan lain-lain. Rizqi itu milik Allah, dunia ini milik Allah. Langit, bumi dan seluruh isinya adalah milik Allah. Tidak mungkin Allah SWT menelantarkan hamba-hamba yang mencintai Firman-firman-Nya.
  3. MALAS karena terbuai dengan kesibukan, kesenangan materi, selalu merasa lelah dan cape untuk menghafal Al Quran tetapi tetap semangat untuk melakukan hal lain atau mencari hiburan. Penyakit MALAS inilah penyebab pertama dikutuknya syetan.
  4. SOMBONG, karena merasa ibadahnya sudah sempurna dan  menganggap tidak ada gunanya lagi menghafal Al Quran.     Penyakit SOMBONG penyebab kedua dikutuknya syetan seperti dijelaskan dalam QS. Al Baqarah : 34.

F.  LANGKAH-LANGKAH DALAM MENGHAFAL

  1. Bersuci/wudlu, agar jiwa kita bersih sehingga dekat kepada Allah dan saat menghafal dihadiri oleh malaikat Jibril sebagai pembawa Al Quran. (Lihat QS. Al Waqiah : 19). Dalam HR. Thabrani dari Maimunah Bt. Sa’ad, Rasul bersabda, “Aku tidak suka bila seseorang tidur sebelum mengambil wudlu. Aku khawatir ia lantas mati sehingga tidak dihadiri oleh malaikat Jibril (karena tidak punya wudlu). Rasulullah SAW mengirim surat kepada pegawainya “Amr Bin Hazm” berisi pesan : Janganlah menyentuh Al Quran kecuali orang yang dalam kondisi suci (beruwudlu). (Kitab Al Muwaththa, Imam Malik).
  2. Berdo’alah memohon dimudahkan dalam menghafal dan dikuatkan hafalannya.  Berikut di antara contoh Do’anya :


Ya Allah, jadikan kami ahli Al Quran, jadikan kami penghafal Al Quran, jadikan kami pengemban Al Quran, jadikan kami pengamal Al Quran dan janganlah Engkau jadikan kami orang yang dilaknat Al Quran. Wahai Allah Yang Maha Pengasih dari yang pengasih.

3.Bacalah sebelum menghafal : Ta’awwudz, basmalah, Al fatihah dan Al Hijr : 9

4. Mulailah menghafal Juz 30 dimulai dari surat An Naba, An Nazi’at, ‘Abasa dan seterusnya sampai An Naas, sebagai bekal bacaan dalam shalat. Selain itu cara tersebut dapat membangun semangat dan optimisme dalam menghafal Al Quran karena kalau yang panjang sudah hafal yang pendek akan lebih mudah untuk dihafal. Kemudian Juz 1 dan 29, berlanjut ke Juz  2 dan 28 baru ke juz 3,4,5 dst.  sampai khatam. Bagi yang belum Tahsin (lancar dan bagus bacaannya), hafalan dilakukan dengan metode Talaqqi (mengikuti bacaan pembimbing) kalimat demi kalimat atau mendengarkan dari rekaman.

5. Sebaiknya menggunakan Al Quran pojok dan tidak berganti-ganti mushaf karena tata letak, baris, nomor halaman dll. dapat membantu mengingatkan dan menguatkan hafalan.

6. Mulailah dengan membaca perlahan sampai benar, kemudian membaca dengan tempo sedang barulah menghafalkan kata demi kata, dan kalimat demi kalimat.

7. Tashhihkan secara teratur hafalannya perhalaman bagi yang sudah Tahsin, minimal per 5 ayat pendek atau per-2 ayat panjang bagi yang belum Tahsin.

8. Muraja’ah. Shalat sunnat sebagai media paling efektif untuk muraja’ah. Selain itu sebelum dan sesudah shalat Shubuh serta sebelum dan sesudah shalat Jum’at terutama sesudah ‘Ashar menjelang maghrib di hari Jumat, betul-betul waktu yang sangat diberkahi Allah SWT untuk muraja’ah. Muraja’ah perlu dilakukan dalam berbagai keadaan karena ; Hafal di hati belum tentu hafal di lisan, hafal sambil duduk belum tentu hafal sambil berdiri atau berjalan, hafal dengan suara pelan belum tentu hafal dengan suara dinyaringkan, dan hafal saat baca sendiri belum tentu hafal saat menjadi imam.

G. KEUTAMAAN HAFIDZ QURAN

  1. Meraih ridla Allah SWT
  2. Mendapatkan pertolongan (syafaat) saat dahsyatnya hari Kiamat
  3. Memperoleh kenikmatan di dunia dan akhirat yang tiada bandingannya
  4. Meraih nikmat kenabian hanya saja dia tidak diberi wahyu.
  5. Mendapat Tasyrif Nabawi (penghormatan/diistimewakan Rasul)
  6. Para ahli Quran adalah keluarga Allah yang berjalan di atas bumi (sangat dekat dan dicintai Allah SWT).
  7. Dipakaikan mahkota dari cahaya di hari kiamat yang cahayanya seperti cahaya matahari
  8. Kedua orang tuanya dipakaikan jubah kemuliaan yang tak dapat ditukarkan dengan dunia dan seisinya
  9. Dapat jaminan surga (Ahlullah).
  10. Mendapat derajat dan kedudukan yang sangat tinggi di surga. Tinggi rendahnya derajat dan kedudukannya di surga tergantung dengan derajat hafalannya.
  11. Namanya akan diperkenalkan kepada para malaikat Muqarrabin dan para penghuni surga yang sangat dicintai Allah.
  12. Kemuliaannya disejajarkan dengan Malaikat Jibril
  13. Ahli dzikir paling agung
  14. Bukti kemu’jizatan Al Quran
  15. Duta ukhuwah dunia. Saat para hafidz dari berbagai negara bertemu secara otomatis merasakan persaudaraan yang luar biasa seakan sudah saling mengenal bertahun-tahun lamanya.
  16. Dimuliakan Allah SWT. Menghormati penghafal Quran berarti mengagungkan Allah
  17. Hati penghafal Quran tidak akan tersentuh api neraka
  18. Dapat memberikan syafaat kepada 70 orang yang dicintainya.
  19. Dibukakan pintu-pintu rahmat
  20. Makin bertambah keimanannya
  21. Kuburannya terang benderang
  22. Haram jasadnya dimakan binatang-binatang tanah
  23. Tiap satu huruf yang diucapkannya berpahala seperti berbuat 10 hasanah (kebaikan)
  24. Setiap bacaannya bernilai dzikir dan shadaqah
  25. Rumahnya paling indah di sisi Allah  
  26. Pemilik benteng dan perisai hidup paling kuat
  27. Memperoleh kedudukan yang tinggi di hati orang-orang soleh.
  28. Lebih berhak menjadi imam shalat
  29. Allah membolehkan rasa iri terhadapnya
  30. Hidupnya penuh kebaikan dan keberkahan
  31. Pemilik bekal hidup yang paling baik
  32. Khazanah (sumber) rujukan hukum Islam yang utama
  33. Difasihkan Allah dalam berbicara
  34. Ciri orang yang diberi ilmu
  35. Makin kuat daya ingatnya
  36. Terhindar dari penyakit pikun dini
  37. Kecerdasan dan IQ-nya meningkat
  38. Menjadi hujjah dalam ghazwul fikri (perang pemikiran / opini)
  39. Sumber inspirasi (menjadi motivator tersendiri) sepanjang masa
  40. Fikiran dan jiwanya menjadi jernih dan tentram
  41. Memperoleh ketenangan dan stabilitas psikologis
  42. Mudah diterima ucapannya di depan publik
  43. Lebih amanah menerima kepercayaan orang lain
  44. Penerima amanah agung yang tidak sanggup dipikul oleh gunung sekalipun
  45. Sehat jasmani dan rohaninya.
  46. Termasuk golongan manusia terbaik di sisi Allah
  47. Do’anya mustajab (dikabulkan Allah SWT).
  48. Dimudahkan dalam mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya
  49. Dimudahkan dalam urusan hidup dunia akhiratnya
  50. Menyembuhkan berbagai penyakit
  51. Bukti orang yang mensyukuri nikmat lisan, pendengaran, penglihatan indra lainnya.
  52. Setiap hafalan yang dibacakannya merontokan dosa-dosanya
  53. Membinasakan kekuatan syetan
  54. Murajaah dan muddakarah (proses belajarnya) sesaat lebih utama daripada shalat sunnat 1000 rakaat
  55. Mati saat berusaha menghafalnya termasuk mati syahid yang mendapat jaminan surga.