Mengenal 4 madzhab Bag.1
Mazhab berasal dari bahasa Arab yang berarti jalan yang dilalui atau dilewati. Ulama Islam berpendapat mazhab sebagai
metode yang dipakai setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian
orang menjalaninya dan menjadikannya sebagai pedoman.
Pada
dasarnya, mazhab timbul karena perbedaan dalam memahami Alquran dan
Sunah yang tidak bersifat absolut. Menurut Prof Said Aqil Husain
al-Munawar dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, mazhab fiqih
berarti aliran pemikiran tentang hukum yang penetapannya merujuk kepada
sumber utama ajaran Islam, yakni Alquran dan Sunah.
Sejatinya,
mazhab atau aliran tersebut hanya berbeda dalam menafsirkan ayat-ayat
yang tak jelas artinya. Sedangkan, dasar ajaran Islam pada setiap
mazhab-mazhab itu tak berbeda. Sehingga, perbedaan yang ada dalam setiap
mazhab itu masih dapat diterima sebagai sesuatu yang benar dan tak
keluar dari Islam. Terkadang, perbedaan antara satu mazhab dengan mazhab
lainnya cukup besar dan bahkan bertentangan.
Mazhab Fiqih dalam Ahlu Sunnah Wal Jamaah:
1. MAZHAB HANAFI
Mazhab
ini didirikan oleh Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Ulama besar yang
dikenal dengan nama Imam Hanafi itu terlahir di Kufah, Irak, pada 80 H.
Ia adalah seorang ahli fikih keturunan bangsa Persia yang kemudian
menetap di Irak. Imam Hanafi menimba ilmu fikih kepada Hammad bin Abi
Sulaiman.
Setelah gurunya meninggal, ia menjadi pengajar. Imam
Hanafi mengarahkan murid-muridnya dalam pencarian hakikat dan inti
persoalan dan pengenalan terhadap ilah (alasan) serta hukum di balik
teks tertulis.
Dasar yang dipakai oleh mazhab Hanafi adalah
Alquran, Sunnah, dan fatwa sahabat yang merupakan penyampai. Mazhab ini
juga menggunakan qiyas sebagai dasarnya dan juga istihsan, yaitu qiyas
yang berlawanan dengan nas. Imam Hanafi juga menggunakan ijma, yaitu
kesepakatan para mujtahid mengenai suatu kasus hukum pada suatu masa
tertentu.
Selain itu, ia juga menggunakan dasar urf, yaitu adat
kebiasaan orang Islam dalam satu masalah tertentu yang tidak disebut
oleh nas Alquran.
Penyusun pendapat, fatwa, dan hadis dari Imam
Hanafi adalah murid-muridnya, yaitu Yakub bin Ibrahin al-Ansari atau Abu
Yusuf, dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Mereka menyusun kitab yang
berisi masalah fikih mazhab Hanafi.
Ada sejumlah faktor yang
mendorong berkembangnya mazhab itu dan mampu bertahan selama lebih dari
lima abad. Faktor utamanya, banyaknya murid yang berguru kepada Imam
Hanafi. Mereka giat menyebarkan ajaran kepada orang-orang di sekitar
mereka sehingga timbullah generasi kedua yang menganut mazhab tersebut.
Mazhab
ini tersebar di daerah yang memiliki tradisi yang berbeda. Dari tradisi
yang berbeda ini melahirkan putusan menurut mazhab Hanafi. Mazhab
Hanafi sempat menjadi mazhab resmi Dinasti Abbasiyah. Mazhab ini juga
tersebar di negara yang dikuasai Dinasti Ottoman, daerah Anatolia (Asia
Tengah), India, dan wilayah Transoksania (Turkistan, Asia Tengah).
Mazhab
ini berkembang pula di Suriah, bahkan sempat dijadikan mazhab negara.
Di Mesir, mazhab Hanafi juga menjadi mazhab negara ketika pemerintahan
Muhammad Ali (1805-1849).
Al Qosim Bin Muhammad Bin Abu Bakar Ash Shidiq Bag I
Sudah
sampaikah berita kepada Anda tentang tabi'in yang agung ini? Seorang
pemuda yang terkumpul pada dirinya pujian dari segala sisi, tak satupun
pujian luput darinya.
Ayahanda beliau adalah Muhammad bin Abu Bakar
Ash-Shiddiq, Ibunya adalah puteri Yazdajir, raja Persia yang terakhir.
Sedangkan bibinya dari pihak ayah adalah Aisyah Rodhiallahu 'anha,
Ummul Mukminin. Di samping itu, di atas kepalanya telah bertengger
mahkota takwa dan ilmu. Adakah Anda masih mengira ada kemenangan yang
lebih tinggi dari kemenangan yang semua orang bersaing dan berlomba
mendapatkannya ini?
Dialah
Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, satu dari tujuh fuqaha
Madinah, yang paling utama ilmunya pada zamannya, paling tajam
kecerdasan otaknya dan paling bagus sifat wara' nya. Marilah kita buka
lembaran hidupnya dari awal.
Al-Qasim bin Muhammad lahir pada akhir masa khilafah Utsman bin Affan Rodhiallahu 'anhu.
Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak ini, badai fitnah semakin
dahsyat menerpa kaum muslimin. Hingga me ngakibatkan terbunuhnya
khalifah yang zuhud, ahli ibadah, Dzun Nurain Utsman bin Affan sebagai
syuhada, sedangkan Al-Qur'an ber ada dalam dekapannya
Suatu hari
beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku
didudukkan di pangkuannya yang satu sedang adikku di pangkuan yang lain.
Paman Abdurrahman datang atas undangan nya. Lalu bibi Aisyiah mulai
berbicara, beliau mulai dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
sungguh aku belum pernah mendengar sebelum dan sesudahnya seorangpun
baik laki-laki ataupun perempuan yang lebih fasih lisannya dan lebih
bagus tutur katanya dari beliau. Beliau berkata kepada paman: "Wahai
saudaraku, aku melihat sepertinya Anda menjauh dari saya sejak saya
mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah saya melakukannya bukan
karena lancang kepada Anda, bukan karena saya menaruh buruk sangka
kepada Anda dan bukan pula lantaran saya tidak percaya bahwa Anda dapat
memenu hi hak keduanya. Hanya saja Anda memiliki istri lebih dari satu,
se dangkan ketika itu kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya
sendiri. Maka saya khawatir jika keduanya dalam keadaan yang tidak
disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga saya
merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun
sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya
sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada
Anda." Begitulah, akhirnya pamanku Abdurrahman memboyong kami ke
rumahnya.
Hanya saja, hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut de ngan rumah bibinya, Aisyah Rodhiallahu 'anha.
Rindu terhadap lantai rumah yang bercampur dengan kesejukan nubuwat.
Dia berkembang dan ter pelihara oleh perawatan pemilik rumah itu, dia
kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya
antara rumah bibi dan rumah pamannya.
Rumah bibinya betul-betul
berkesan di hatinya. Lingkungan yang sejuk itu menghidupkan sanubari
selama hayatnya. Simaklah kesan- kesan yang melekat di hatinya:
"Suatu hari aku berkata kepada bibiku Aisyah Rodhiallahu 'anha: "Wahai ibu, tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam dan kedua sahabatnya, aku ingin sekali melihatnya."
Tiga
kubur itu berada di dalam rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk
menghalangi pandangan. Beliau memperlihatkan untuk kami tiga buah makam
yang tidak digundukkan dan tidak pula dicekung kan. Ketiganya ditaburi
kerikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid. Saya bertanya:
"Yang mana makam Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam?"
Beliau menunjuk salah satu darinya: "Ini." Bersamaan dengan itu, dua
butir air mata bergulir di pipinya, tetapi segera di sekanya agar aku
tak melihatnya. Makam Nabi Sholallahu 'alaihi wasallam itu agak lebih maju dari makam ke dua sahabatnya.
Saya bertanya lagi: "Lalu yang mana makam kakekku, Abu Bakar?"
Sambil
menunjuk satu kubur beliau berkata: "Yang ini." Kulihat ma kam kakekku
sejajar dengan letak bahu Rasulullah. Aku berkata: "Yang ini makam
Umar?" Beliau menjawab: "Benar."
Aku melihat letak kepala Umar sejajar dengan jari-jari kakekku, dekat dengan arah kaki Nabi Sholallahu 'alaihi wasallam."
Sumber: Shuwaru min Hayati At-Tabi'in/kisahislam.com
Al Qosim Bin Muhammad Bin Abu Bakar Ash Shidiq (2 )
